FintalkUpdate News

Insentif Otomotif Terancam Dicabut Tahun Depan, Harga Mobil Listrik hingga LCGC Berpotensi Naik

Insentif otomotif dikabarkan akan dicabut tahun depan. Jika terealisasi, harga mobil listrik, hybrid, hingga LCGC berpotensi naik dan memengaruhi daya beli konsumen.

Wacana pencabutan insentif sektor otomotif mulai tahun depan memicu kekhawatiran di pasar kendaraan nasional, karena jika kebijakan itu benar-benar diterapkan maka harga mobil listrik, hybrid, hingga LCGC diperkirakan bakal mengalami kenaikan signifikan.

Selama beberapa tahun terakhir, insentif pemerintah seperti PPN ditanggung pemerintah, pembebasan atau keringanan PPnBM, serta relaksasi pajak impor menjadi faktor utama yang menekan harga mobil ramah lingkungan di Indonesia. Kebijakan tersebut membuat mobil listrik dan hybrid semakin terjangkau, sekaligus mendorong pertumbuhan penjualan kendaraan baru di tengah pelemahan ekonomi global.

Namun, rencana penghentian insentif ini mulai mengemuka seiring evaluasi kebijakan fiskal pemerintah. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya menegaskan bahwa insentif otomotif bukanlah kebijakan permanen dan akan terus dievaluasi sesuai kondisi fiskal serta kesiapan industri dalam negeri. “Insentif diberikan untuk mendorong fase awal. Ketika industri sudah tumbuh dan kuat, tentu kebijakannya akan disesuaikan,” ujar Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya kepada media nasional.

Jika insentif tersebut dicabut, beban pajak kendaraan akan kembali ke skema normal. Dampaknya, mobil listrik yang selama ini menikmati PPN rendah atau bahkan nol persen berpotensi mengalami lonjakan harga puluhan juta rupiah, terutama untuk model yang masih diimpor utuh dan belum memenuhi ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Kondisi serupa juga bisa terjadi pada mobil hybrid yang saat ini mendapat keringanan PPnBM.

Kekhawatiran juga muncul di segmen LCGC yang selama ini dikenal sebagai mobil terjangkau bagi masyarakat. Tanpa dukungan insentif, harga LCGC diprediksi ikut terkerek, sehingga berpotensi menggerus daya beli konsumen kelas menengah yang selama ini menjadi tulang punggung pasar otomotif nasional.

Read More  Bridgestone Dukung IIMS Surabaya 2025

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi menilai kebijakan insentif sangat berpengaruh terhadap stabilitas industri. “Insentif otomotif itu bukan hanya soal harga mobil, tapi juga menjaga ekosistem industri, dari pabrikan, pemasok komponen, hingga tenaga kerja,” kata Yohannes Nangoi dalam pernyataan resminya. Menurutnya, perubahan kebijakan perlu dikomunikasikan dengan baik agar industri memiliki waktu untuk beradaptasi.

Di sisi konsumen, potensi kenaikan harga ini membuat sebagian masyarakat mulai mempertimbangkan untuk mempercepat pembelian kendaraan sebelum insentif benar-benar dihentikan. Sementara bagi industri, kepastian kebijakan menjadi faktor penting untuk menentukan strategi produksi dan investasi ke depan, khususnya di segmen kendaraan listrik yang masih berada pada tahap pengembangan.

Jika pencabutan insentif benar terjadi tahun depan, pasar otomotif nasional diperkirakan akan memasuki fase penyesuaian baru, di mana harga kendaraan kembali mencerminkan biaya produksi dan pajak sebenarnya, tanpa bantalan stimulus dari pemerintah.

Back to top button